Minggu, 24 September 2017

PEREKONOMIAN INDONESIA - Pertumbuhan Perekonomian Indonesia Pada Triwulan Pertama Tahun 2017

PEREKONOMIAN INDONESIA

 
Wandi Aprilian Henriansyah
Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi
1EB16



Dalam Pembahasan kali ini Penulis Berkesempatan untuk menjelaskan tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan pertama pada tahun 2017 dan Permasalahan Domestic & Global apa saja yang dapat mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan Perekonomian Indonesia Pada Triwulan Pertama Tahun 2017

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2017 mencapai 5,01 persen. Nilai itu lebih rendah dibanding triwulan keempat 2016 (quartal to quartal) yang tumbuh 5,04 persen. Menurut BPS pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year) karena pertumbuhannya 4,92 persen. Pertumbuhan pada triwulan pertama 2017 ini utamanya didorong oleh industri pengolahan dan kinerja ekspor-impor yang positif.

Ekonomi Indonesia pada triwulan satu tumbuh sebesar 5,01 persen. Nilai PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan satu ini Rp 3.227,2 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp. 2.377,5 triliun. Dibandingkan dengan triwulan satu 2016 berarti naik 5,01 persen. Tetapi kalau dibandingkan triwulan empat 2016 menurun minus 0,34."


Dari segi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,10 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh 8,04 persen. Adapun dibanding triwulan sebelumnya, dari produksi
penurunan terjadi karena kontraksi di beberapa lapangan usaha.




Sementara itu, dari sisi pengeluaran, disebabkan menurunnya komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang minus 45,54 persen dan pembentukan modal tetap bruto minus 5,42 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama 2017 utamanya disumbang oleh Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa berkontribusi 58,49 persen, diikuti Pulau Sumatra sebesar 21,95 persen, dan Pulau Kalimantan 8,33 persen.


Beberapa hal yang terjadi pada triwulan pertama 2017 dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, misalnya meningkatnya harga komoditas non-Migas di pasar internasional, kondisi perekonomian global yang secara umum meningkat, serta kondisi ekonomi mitra dagang utama Indonesia yang membaik. Selain itu, inflasi secara quartal to quartal juga terkendali, yakni 1,19 persen, serta belanja pemerintah yang membaik dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 400,14 triliun atau 19,23 persen dari pagu Rp 2.080,5 triliun, naik dari Rp 391,04 triliun atau 18,77 persen dari pagu Rp 2.082,9 triliun.

                

Tantangan Domestic & Global

Tantangan Domestik
Salah satu tantangan domestik untuk mencapai taget pertumbuhan ekonomi adalah belum optimalnya pendapatan negara dari pajak, seiring dengan perlambatan ekonomi Indonesia dan masih rendahnya basis pajak. Di sisi lain, Pemerintah berencana untuk meningkatkan porsi anggaran belanjanya, khususnya untuk belanja infrastruktur, guna mengurangi kesenjangan infrastruktur antar daerah dan sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akibatnya, defisit anggaran cenderung semakin melebar dan mendekati ambang batas yang ditetapkan dalam peraturan yang menyebutkan bahwa jumlah kumulatif defisit anggaran tidak dapat melebihi 3 (tiga) persen dari PDB tahun berjalan.
Tantangan domestik lainnya adalah aktivitas sektor swasta yang relatif masih stagnan, dimana salah satunya tercemin dari pertumbuhan kredit yang lambat. Selain itu, peningkatan NPL di sector perbankan merupakan salah satu resiko yang perlu diawasi secara ketat oleh Pemerintah. Dengan ruang gerak Pemerintah yang semakin terbatas penurunan pendapatan pajak menyebabkan Pemerintah tidak dapat leluasa dalam meningkatkan belanjanya, maka peran sektor swasta sebagai sumber pertumbuhan ekonomi perlu terus didorong dan ditingkatkan.


Tantangan Global
Tantangan global terbesar bagi perekonomian Indonesia diperkirakan masih berasal dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Amerika Serikat (AS). Perlambatan ekonomi RRT yang terjadi sejak akhir tahun lalu diperlakukan masih akan terjadi selama beberapa waktu ke depan. Sebagai negara importir terbesar kedua di dunia, perlambatan ekonomi di RRT tidak hanya merugikan mitra dagangnya secara langsung namun juga menyebabkan penurunan permintaan dunia secara keseluruhan, yang akhirnya dapat berujung pada perlambatan ekonomi global. Kebijakan yang akan diambil oleh Pemerintah RRT di tengah kondisi global yang melemah, serta sejauh mana kebijakan tersebut akan efektif mengurangi perlambatan ekonomi tersebut, perlu dipantau oleh Pemerintah Indonesia agar dapat menyusun kebijakan antisipasi yang tepat.




SUMBER

https://www.bps.go.id/website/brs_ind/brsInd-20170505101853.pdf

https://www.bappenas.go.id/files/7114/7978/1344/outlook-final-

IND.pdf