PEREKONOMIAN INDONESIA
Wandi Aprilian Henriansyah
Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi
1EB16
Dalam Pembahasan kali ini Penulis
Berkesempatan untuk menjelaskan tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan
pertama pada tahun 2017 dan Permasalahan Domestic & Global apa saja yang
dapat mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan Perekonomian
Indonesia Pada Triwulan Pertama Tahun 2017
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada
triwulan pertama 2017 mencapai 5,01 persen. Nilai itu lebih rendah dibanding
triwulan keempat 2016 (quartal to quartal) yang tumbuh 5,04 persen. Menurut BPS
pertumbuhan itu lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu (year on
year) karena pertumbuhannya 4,92 persen. Pertumbuhan pada triwulan pertama 2017
ini utamanya didorong oleh industri pengolahan dan kinerja ekspor-impor yang
positif.
Ekonomi Indonesia pada triwulan satu tumbuh sebesar 5,01 persen. Nilai
PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan satu ini Rp 3.227,2 triliun dan atas
dasar harga konstan 2010 mencapai Rp. 2.377,5 triliun. Dibandingkan dengan
triwulan satu 2016 berarti naik 5,01 persen. Tetapi kalau dibandingkan triwulan
empat 2016 menurun minus 0,34."
Dari segi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha
informasi dan komunikasi sebesar 9,10 persen. Sementara dari sisi pengeluaran,
dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh 8,04 persen. Adapun
dibanding triwulan sebelumnya, dari produksi
penurunan terjadi karena kontraksi
di beberapa lapangan usaha.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, disebabkan menurunnya komponen
pengeluaran konsumsi pemerintah yang minus 45,54 persen dan pembentukan modal
tetap bruto minus 5,42 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama
2017 utamanya disumbang oleh Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa
berkontribusi 58,49 persen, diikuti Pulau Sumatra sebesar 21,95 persen, dan
Pulau Kalimantan 8,33 persen.
Beberapa hal yang terjadi pada triwulan pertama 2017 dan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi, misalnya meningkatnya harga komoditas non-Migas di pasar
internasional, kondisi perekonomian global yang secara umum meningkat, serta
kondisi ekonomi mitra dagang utama Indonesia yang membaik. Selain itu, inflasi
secara quartal to quartal juga terkendali, yakni 1,19 persen, serta belanja pemerintah
yang membaik dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 400,14 triliun
atau 19,23 persen dari pagu Rp 2.080,5 triliun, naik dari Rp 391,04 triliun
atau 18,77 persen dari pagu Rp 2.082,9 triliun.
Tantangan Domestic & Global
Tantangan Domestik
Salah satu tantangan domestik untuk mencapai taget
pertumbuhan ekonomi adalah belum optimalnya pendapatan negara dari pajak, seiring
dengan perlambatan ekonomi Indonesia dan masih rendahnya basis pajak. Di sisi lain,
Pemerintah berencana untuk meningkatkan porsi anggaran belanjanya, khususnya untuk
belanja infrastruktur, guna mengurangi kesenjangan infrastruktur antar daerah dan
sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akibatnya, defisit anggaran
cenderung semakin melebar dan mendekati ambang batas yang ditetapkan dalam peraturan
yang menyebutkan bahwa jumlah kumulatif defisit anggaran tidak dapat melebihi 3
(tiga) persen dari PDB tahun berjalan.
Tantangan domestik lainnya adalah aktivitas sektor
swasta yang relatif masih stagnan, dimana salah satunya tercemin dari pertumbuhan
kredit yang lambat. Selain itu, peningkatan NPL di sector perbankan merupakan
salah satu resiko yang perlu diawasi secara ketat oleh Pemerintah. Dengan ruang
gerak Pemerintah yang semakin terbatas penurunan pendapatan pajak menyebabkan
Pemerintah tidak dapat leluasa dalam meningkatkan belanjanya, maka peran sektor
swasta sebagai sumber pertumbuhan ekonomi perlu terus didorong dan
ditingkatkan.
Tantangan Global
Tantangan global terbesar bagi perekonomian Indonesia diperkirakan
masih berasal dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Amerika Serikat (AS).
Perlambatan ekonomi RRT yang terjadi sejak akhir tahun lalu diperlakukan masih
akan terjadi selama beberapa waktu ke depan. Sebagai negara importir terbesar
kedua di dunia, perlambatan ekonomi di RRT tidak hanya merugikan mitra
dagangnya secara langsung namun juga menyebabkan penurunan permintaan dunia
secara keseluruhan, yang akhirnya dapat berujung pada perlambatan ekonomi
global. Kebijakan yang akan diambil oleh Pemerintah RRT di tengah kondisi
global yang melemah, serta sejauh mana kebijakan tersebut akan efektif
mengurangi perlambatan ekonomi tersebut, perlu dipantau oleh Pemerintah
Indonesia agar dapat menyusun kebijakan antisipasi yang tepat.
SUMBER
https://www.bps.go.id/website/brs_ind/brsInd-20170505101853.pdf
https://www.bappenas.go.id/files/7114/7978/1344/outlook-final-
IND.pdf



